Jumat, 23 Februari 2018

Teman atau Sahabat

Ialah dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa berusaha menjadi orang lain dan mereka siap menerima diri kita dalam keadaan apapun. By: Rosma



Minggu, 25 Desember 2016

weekend kitaber-5 CURUG PUTRI KENCANA & CURUG BARONG






Setelah mendaki gunung dan melewati lembah ... sampai juga di curug yg cantik ini wkwkwkwkwk..
terbayar sudah lelah nya berjalan kaki kurang lebih 30 menit  dari parkiran motor..

ini baru jalan-jalan dan benar benar jalan ..
Adam&Alul said "Ros ga ada eskalator apah biar cepet sampe?" Mamay said "iya ros.. mamay cape "/. Linda said "iya lemayan juga nih kaki heheh" .. Gw said "ya kalau ga mau cape mah tidur ajh di rumah hahahahaha" .. Alul " iya dah yg anak gunung mah, untung gw anak ema hahahaha"
gw "ahh dasar lo pada " ..

ya begitu lah sedikit cuplikan ketika perjalanan menuju curug... lelah tapi ga berasa karna kita bareng-bareng dan baper-baper hahahahahha.

Sabtu, 26 November 2016

Tumbuhan Tidak Berpembuluh

Pembuluh
Pembuluh adalah jaringan yang terdiri atas sel-sel yang dihubungkan satu sama lain, membentuk pembuluh yang mengangkut air dan zat-zat hara di seluruh tubuh tumbuhan. Kelompok tumbuhan yang tidak memiliki pembuluh tersebut, dikelompokkan ke dalam tumbuhan tak berpembuluh (nonvaskuler)dan kelompok tumbuhan yang memiliki pembuluh dikelompokkan ke dalam tumbuhan berpembuluh (vaskuler).

Tumbuhan Tidak Berpembuluh (Nonvaskuler)
Tumbuhan ini disebut tumbuhan tidak berpembuluh karena tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tubuhan ini tidak mempunyai saluran atau pembuluh yang khusus untuk mengalirkan zat makanan, air, garam, dan mineral ke seluruh bagian tubuh. Bryophyta (lumut) dan Lichenes (lumut kerak) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini.

Bryophyta (Lumut)
Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan peralihan dari air ke daratan. Pada waktu berkembang biak, lumut masih memerlukan air, sperma memiliki flagela dan harus berenang dari anteridium ke arkegonium untuk membuahi sel telur. Pada beberapa spesies lumut, setetes air hujan atau embun sudah cukup untuk memungkinkan terjadinya pembuahan. Dengan demikian, beberapa spesies lumut dapat hidup di gurun. Sebagian besar lumut tidak memiliki pembuluh (ada lumut tertentu yang memiliki sel pengangkut air yang memanjang), maka ketika air mengalir pada permukaan hamparan lumut, air akan meresap dan menyerap ke seluruh tubuh tumbuhan melalui proses difusi yang relatif lambat. Oleh karena itu, habitat yang umum untuk lumut adalah yang teduh dan lembap. Lumut dapat merentang secara horizontal sebagai hamparan di atas permukaan yang luas, tetapi  tingginya hanya 1-2 cm, paling tinggi umumnya kurang dari 20 cm. Dalam siklus hidupnya lumut mengalami pergiliran keturunan (generasi) haploid dan diploid.
Ciri khas dari tumbuhan lumut yang lain adalah mengalami pergiliran keturunan, gametofit (n) dan sporofit (2n) yang didominasi oleh fase gametofitnya. Gametofit ini umumnya lebih besar dan hidup lebih lama dari sporofitnya. Sporofit melekat dan bergantung pada gametofit untuk mendapatkan nutrisi dalam berbagai tingkat. Beberapa sporofit seluruhnya tertutup dalam jaringan gametofit, tetapi yang lain tidak dan biasanya berubah kecoklatan saat matang. Tumbuhan lumut membutuhkan air (seperti air hujan) untuk bereproduksi secara seksual, seperti asal-usul air (evolusi dari ganggang hijau) mereka. Mungkin inilah hal yang membuat tumbuhan lumut sangat menyukai tempat yang basah dan lembab.

Pergiliran Keturunan Tumbuhan Lumut
Pergiliran keturunan atau disebut juga metagenesis merupakan istilah untuk mendeskripsikan daur hidup yang terdiri dari dua fase, yaitu fase gametofit yang merupakan fase multiseluler haploid (n), yang berganti menjadi fase sporofit yang merupakan fase multiseluler diploid (2n). Tahap-tahap pergiliran keturunan tumbuhan lumut adalah: [2][3][4][5]
pergiliran-keturunan-tumbuhan-lumut
Pergiliran keturunan tumbuhan lumut | Photo by Htpaul is licensed under CC-BY-SA-3.0
  1. Spora yang haploid (n) tumbuh menjadi benang-benang yang disebut protonema, lalu tumbuh “kuncup,” dan menjadi gametofit (tumbuhan lumut). Gametofit ini memiliki dua jenis, yaitu gametofit jantan dan gametofit betina.
  2. Pada ujung gametofit jantan terdapat anteridium yang menghasilkan sperma (spermatozoid) dan pada ujung gametofit betina terdapat arkegonium yang menghasilkan ovum.
  3. Melalui perantara air, sperma dapat mencapai ovum dan terjadilah fertilisasi, sehingga terbentuk zigot di dalam arkegonium. Zigot kemudian berkembang menjadi embrio sporofit.
  4. Sporofit yang diploid (2n) tumbuh menjadi tangkai panjang yang disebut dengan seta. “Kaki” seta ini masih menempel pada gametofit (yang tadinya arkegonium) dan bergantung pada nutrisi dari gametofit tersebut.
  5. Ujung seta berkembang menjadi sporangium, di dalam sporangium ini terjadi meiosis sehingga spora yang terbentuk adalah haploid (n). Apabila spora-spora pada “kapsul” ini sudah matang, spora-spora ini kemudian disebarkan.


Divisi lumut (Bryophyta) :
1.     Lumut Hati ( Hepaticopsida)
daur-hidup-lumut-hatiHutan tropis merupakan tempat hidup lumut hati dengan keanekaragaman yang paling besar. Gametofitnya merupakan lembaran “daun” tipis yang menempel pada substratnya dengan rizoid yang halus. Lembaran “daun” dibagi menjadi beberapa lobus, bentuknya seperti hati hewan, epidermisnya mengandung klorofil. Pada permukaan gametofit terdapat badan seperti mangkuk yang berisi kuncup (gemma) yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan aseksual. Kuncup yang terlepas dan jatuh di tempat yang sesuai, akan tumbuh menjadi individu baru. Siklus hidup lumut hati hampir sama dengan siklus hidup lumut daun. Gambar Lembaran “daun” (gametofit dengan mangkuk berisi gemma, anteridium, dan arkegonium.
Marchantia 




lumut hati
 







Perkembangbiakan seksual terjadi melalui pembentukan arkegoniumdan anteridium, biasanya tumbuh pada gametofit yang berbeda. Tangkai arkegonium disebut arkegoniofor, sedangkan tangkai anteridium disebut anteridiofor. Lekukan pada payung pembawa anteridium lebih dangkal dibanding dengan payung arkegonium. Pada tiap lekukan terdapat satu arkegonium, yang tumbuh ke arah bawah. Setelah terjadi pembuahan terbentuk zigot, sementara arkegoniofor terus memanjang. Zigot tumbuh menjadi sporofit dan terbentuk “kapsul” tempat tumbuhnya spora yang haploid. Spora yang jatuh pada tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi benang yang tidak tentu bentuknya dan berfungsi sebagai sel pemula pembentukan gametofit.


2.    Lumut Tanduk (Anthocerotophyta/Anthocerophyta)
Lumut kelompok ini disebut dengan lumut tanduk karena sporofitnya berbentuk panjang dan meruncing seperti tanduk. Sporofit ini mengandung klorofil dan dapat tumbuh setinggi 5 cm, tidak memiliki seta, dan hanya terdiri dari sporangium. Sporangium yang sudah matang akan melepaskan spora dengan cara membelah terbuka secara bertahap, mulai dari ujungnya.
daur-hidup-lumut-tanduk
Anthoceros_punctatus
 













Daur hidup lumut tanduk | Photo by LadyofHats (Mariana Ruiz Villarreal) is not licensed (Public Domain)
Sama seperti kelompok tumbuhan lumut lain, tubuh lumut tanduk didominasi oleh fase gametofitnya. Gametofit ini merupakan talus yang berbentuk seperti bunga mawar tipis atau pita dengan diameter antara satu sampai lima sentimeter. Tidak seperti gametangium kelompok lain yang nampak dengan jelas, anteridium dan arkegonium pada lumut tanduk sulit diamati karena terbenam pada gametofitnya.





3.   Lumut Daun (Bryopsida)
Lumut daun (Bryophyta) merupakan divisi terbesar dari tumbuhan lumut dan objek yang paling sering digunakan untuk menggambarkan daur hidup tumbuhan lumut. Gametofit pada lumut daun merupakan bentuk yang dominan, memiliki bentuk seperti “daun” atau “rumput” yang membentuk hamparan seperti “karpet” berwarna hijau. Pada ujung gametofit jantan terdapat anteridium yang menghasilkan sperma (spermatozoid) dan pada ujung gametofit betina terdapat arkegonium yang menghasilkan ovum.
polytrichum_plantdaur-hidup-lumut-daun 
Daur hidup lumut daun | Photo by LadyofHats (Mariana Ruiz Villarreal) is not licensed (Public Domain)
Sporofit yang terbentuk tumbuh menjadi seta yang berukuran panjang. “Kaki” seta ini masih menempel pada gametofit (yang tadinya arkegonium) dan bergantung pada nutrisi dari gametofit tersebut. Sporangium pada ujung seta memiliki tiga bagian, yaitu: [7]
  • Kapsul, merupakan struktur menggelembung yang berisi spora. Pada bagian atas terdapat gigi (peristom) untuk membuka atau menutup operkulum.
  • Operkulum, merupakan “tutup” dari kapsul, yang akan terlepas ketika spora siap disebarkan.
Kaliptra, merupakan bungkus dari kapsul dan operkulum yang akan jatuh ketika kapsul (spora) sudah matang.

Daftar pustaka :
www.sangkoeno.com › biologi › Science
biologi-indonesia.blogspot.com › ... › Kingdom Plantae › materi › sma › tumbuhan
www.berpendidikan.com › Biologi › Pelajaran IPA
bahasapedia.com › Biologi SMA

Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2009 >>Biologi 1 >> Ari Sulistyorini